Subscribe
Add to Technorati Favourites
Add to del.icio.us
ASEP FIRDAOS
Terima kasih atas kunjungannya ke blog saya. Jangan sungkan untuk mampir lagi ke sini


Rencana Perum Jasa Tirta (PJT) II Jatiluhur dan pemkab melakukan penertiban jaring apung (japung) menuai kecaman. Pasalnya, penertiban itu akan menutup lapangan pekerjaan warga sekitar waduk. Sebagian besar warga di sana, berprofesi sebagai buruh pada japung milik pengusaha dari luar.

“Hampir sebagian besar warga di sana bekerja menjadi buruh. Mereka bisa mendapatkan pekerjaan ketika jumlah japung ada di Jatiluhur. Jangan harap, penertiban japung bagi pengusaha dari luar itu akan menguntungkan warga pribumi. Yang ada malah akan merugikan mereka,” ujar Ading (45) seorang pengusaha japung.

Menurutnya, para pengusaha japung dari luar itu tidak mungkin menjaga usaha itu sendiri. Mereka pasti mempekerjakan orang sebagai karyawan di japung itu. Semakin banyak petak yang dimiliki oleh pengusaha itu, akan semakin banyak pula orang yang dipekerjakan. Rata-rata pekerja itu berasal dari warga sekitar waduk.

“Silahkan cek saja, siapa orang-orang yang bekerja di kolam milik pengusaha dari Jakarta. Mereka orang sini juga. Biasanya orang dari Desa Servis, dari Desa Tajursidang, Sidanglaya, Panyindangan Kecamatan Sukatani, ada yang dari Tegalwaru, atau ada juga dari Sukasari,” jelasnya.

Bila dihitung, dari satu pemilik japung pengusaha luar itu akan mempekerjakan karyawan sebanyak 2 hingga 30 orang. Apabila ditertibkan keberadaan japung itu, yang rugi masyarakat juga. Wajar jika para karyawan itu akan menuntut balik pihak PJT II dan pemkab untuk memperoleh pekerjaan. Karena selama ini, masyarakat di sana merasa kurang begitu diperhatikan.

Kemudian, Ading meminta agar pemkab mengkaji ulang kembali atas rencana penertiban japung itu. Karena, penertiban itu malah akan merusak perekonomian masyarakat, baik petani lokal maupun pengusaha perikanan. Tak dapat dipungkiri, keberadaan japung di waduk itu telah membuat perekonomian meningkat.

“Sisi lain pemerintah sedang berusaha meningkatkan ekonomi masyarakat, tetapi ketika ekonominya sudah meningkat, malah akan dihancurkan lagi. Malah menurut saya, pemerintah itu tidak konsekwen. Jangan pemerintah daerah kita malah terpengaruh PJT. Kata saya sih, PJT mah inginnya hanya untuk menguras kekayaan di Purwakarta,” tandasnya.***

Krisis air bersih di Jakarta disebabkan oleh pompa air di Bendungan Curug tidak berfungsi. Akibatnya, air baku yang mengalir dari Waduk Jatiluhur hingga beberapa pekan lalu mengalami penurunan sampai dengan 40 persen. Namun begitu, Perum Jasa Tirta (PJT) II Jatiluhur menjamin krisis air tersebut akan segera normal. Hal itu sering dengan selesainya pengerukan kotoran sampah di pintu air tersebut.

“Hari ini (kemarin, red) air sudah kembali normal. Kemarin ada pengerukan kotoran sampah dan lumpur di pintu air Curug di sekitar Karawang. Kotoran itu muncul akibat banjir beberapa waktu lalu,” ujar Direktur Utama PJT II Jatiluhur, Djendam Gurusinga.

Menurutnya, pasca banjir yang melanda Kabupaten Karawang bulan lalu telah menimbulkan pendangkalan pada beberapa pintu air. Salah satunya di sekitar Curug Karawang. Untuk itu, pihaknya harus melakukan pengerukan pasir dan kotoran sampah yang menyumbat pintu air tersebut. Saat ini, kegiatan itu telah tuntas dilaksanakan. Sehingga, pasokan air ke Jakarta dipastikan kembali normal.

Diperoleh keterangan, pasokan air baku untuk instalasi pengolahan air (IPA) milik PT Aetra dan PAM Palyja di Waduk Jatiluhur sejak dua pekan ini menurun hingga 40 persen. PJT bersama beberapa perusahaan itu melakukan perbaikan dan menguras endapan lumpur di pompa air tersebut.

Sementara itu, PJT II mengaku tidak menghentikan pasokan air tersebut selama proses perbaikan pompa air tersebut. Tapi memang, pasokan air dipintu Curug ke DKI Jakarta dikurangi dari 44 meter kubik/detik menjadi 36 meter kubik/detik. Saat ini, PJT telah meningkatkan kembali volume air untuk ke Jakarta 44 meter kubik/detik.

Ia juga menjamin, mulai hari ini Jakarta tidak lagi mengalami krisis air. Pasalnya, pasokan dari PJT II Jatiluhur lancar kembali ditambah sumber air yang bersumber dari potensi sungai lokal seperti Kali Cikarang, Kali Bekasi dan Kali Cibeet masih mencukupi sehingga kekurangan air di Jakarta segera teratasi.***